Istiwa' ditakwil menjadi Istawla
Ta'wil, inilah yang sering dilakukan sebagian saudara kita yang lebih mengedepankan akal dan perasaan dalan memahami Qur'an. Maka, ketika sebuah ayat tidak sesuai akal bagi mereka, lantas dita'wilnya.
Apakah dilarang (secara mutlak) mena'wilkan ayat Qur'an ❓❓
TIDAK ‼️
Karena memang dalam ayat Qur'an terdapat ayat yang muhkam (jelas), dan juga ada yang mutasyabih (samar) hingga tak bisa dimaknai sebagaimana dzohirnya..
Namun demikian, janganlah kita bermudah2an dalam mena'wilkan ayat, apalagi dalam membedakan mana ayat yang muhkam dan mutsyabih adalah perkara yang tidak gampang.. Terlebih lagi jika mena'wil dengan mengendepankan akal dan perasaan, wah bisa kacau segala urusan..
Dan jangan lupa, bahwa semua ayat sebenernya sudah dijelaskan oleh sabda Nabi shalallahu alaihi wa salam dan atsar para shahabat, pemahaman mereka lah yang palling haq tentang Al Qur'an‼️ Ditambah lagi oleh penjelasan dari para ulama ahlu sunnah.
Jadi, kalau menemukan ayat yang kita anggap samar, maka jangan bermudah2an mena'wilkan, di eja2 dan di kira2 sendiri sekehendak akal dan perasaan, ahirnya pun kita akan bingung sendiri. Jika demikian urusannya, maka ta'wilpun akan menjadi bathil dan tercela..
______________
Dan Ta’wi yang tercela disini adalah dalam artian memalingkan lafazh dari kemungkinan yang rajah (makna yang kuat) kepada kemungkinan yang marjuh (makna yang lemah) disebabkan dalil (lain) yang menyertainya.
Ta’wil seperti ini dijadikan sandaran (dalil) oleh kebanyakan orang2 Muta’akhirin (belakangan) tidak lain hanyalah karena sikap mubalaghah (berlebihan) dalam usaha untuk mensucikan Allah Subhanahu wa Ta’ala dari penyamaan dengan makhluk-Nya sebagaimana persangkaan dan akal mereka. Dan ini adalah persangkaan yang bathil (salah), yang menjerumuskan mereka ke dalam sesuatu yang sama dengan apa yang mereka lari darinya (yang mereka takuti), atau bahkan lebih parah.
Seperti halnya ketika memahami Istiwa', yang bagi mereka tidak masuk akal, kata mereka :
"Masa sih Allah ada dilangit ?? Kan sama dengan makhluk dong ?? Makhluk juga ada tuh yang kelangit !!"
Maka dita'wil lah Istiwa' oleh sebagian mereka dengan Istawla (menguasai).
Sebenarnya, yang mereka inginkan hanyalah menghindar dari menetapkan Istiwa' dilangit bagi Sang Pencipta, karena makhluk pun bisa ber-istiwa', karena dianggapnya berarti Allah butuh akan langit, dlsb. Maka lafazh “Istiwa'” tersebut samar bagi mereka, sehingga mereka merasa perlu bahkan harus mena’wilkannya (memalingkanya) dengan makna “kekuasaan.”
Karena hal itu, maka mengharuskan mereka di dalam makna yang mereka tetapkan, sesuatu yang sama dengan apa mereka sangka harus terjadi di dalam makna yang mereka nafikan (tolak), karena para hamba juga memiliki kekuasaan..
Artinya : Mena'wilkan "Istiwa'"Allah dengan makna "kekuasaan" dengan tujuan agar tidak menyamakan Allah dengan makhluk, maka sebenernya ini sama saja, yakni sama2 menyamakan Allah dengan makhluk, karena makhluk pun juga ada yang mempunyai kekuasaan.
Maka jika apa yang mereka tetapkan berupa kekuasaan adalah sesuatu yang benar dan mungkin terjadi, maka menetapkan istiwa' bagi Allah, yakni Allah menetap tinggi diatas Arsy, hal ini juga adalah sesuatu yang benar dan mungkin. Dan jika menetapkan istiwa' dilangit (bagi Allah) adalah bathil, dan tidak mungkin, dikarenakan hal itu mengharuskan adanya tasybih (penyamaan Allah dengan makhluk-Nya) menurut persangkaan mereka, maka menetapkan kekuasaan (bagi Allah) juga sesuatu yang bathil dan tidak mungkin.
Maka jelas, dengan ta'wil seperti ini, mereka telah memalingkan dari makna yang rajah ke makna yang marjuh !!
Dan apa-apa yang datang para imam Salafush Shalih dan selain mereka berupa celaan kepada ahli ta’wil, maka yang dimaksudkan adalah mereka-mereka yang mena’wilkan lafazh yang maknanya samar menurut mereka, kepada ta’wil yang tidak semestinya, padahal lafazh tersebut tidak samar menurut pandangan selain mereka.
(Sumber bacaaan : مباحث في علوم القرآن,Syaikh Manna’ al-Qaththan Maktbah Wahbah, hal. 211).
Apakah dilarang (secara mutlak) mena'wilkan ayat Qur'an ❓❓
TIDAK ‼️
Karena memang dalam ayat Qur'an terdapat ayat yang muhkam (jelas), dan juga ada yang mutasyabih (samar) hingga tak bisa dimaknai sebagaimana dzohirnya..
Namun demikian, janganlah kita bermudah2an dalam mena'wilkan ayat, apalagi dalam membedakan mana ayat yang muhkam dan mutsyabih adalah perkara yang tidak gampang.. Terlebih lagi jika mena'wil dengan mengendepankan akal dan perasaan, wah bisa kacau segala urusan..
Dan jangan lupa, bahwa semua ayat sebenernya sudah dijelaskan oleh sabda Nabi shalallahu alaihi wa salam dan atsar para shahabat, pemahaman mereka lah yang palling haq tentang Al Qur'an‼️ Ditambah lagi oleh penjelasan dari para ulama ahlu sunnah.
Jadi, kalau menemukan ayat yang kita anggap samar, maka jangan bermudah2an mena'wilkan, di eja2 dan di kira2 sendiri sekehendak akal dan perasaan, ahirnya pun kita akan bingung sendiri. Jika demikian urusannya, maka ta'wilpun akan menjadi bathil dan tercela..
______________
Dan Ta’wi yang tercela disini adalah dalam artian memalingkan lafazh dari kemungkinan yang rajah (makna yang kuat) kepada kemungkinan yang marjuh (makna yang lemah) disebabkan dalil (lain) yang menyertainya.
Ta’wil seperti ini dijadikan sandaran (dalil) oleh kebanyakan orang2 Muta’akhirin (belakangan) tidak lain hanyalah karena sikap mubalaghah (berlebihan) dalam usaha untuk mensucikan Allah Subhanahu wa Ta’ala dari penyamaan dengan makhluk-Nya sebagaimana persangkaan dan akal mereka. Dan ini adalah persangkaan yang bathil (salah), yang menjerumuskan mereka ke dalam sesuatu yang sama dengan apa yang mereka lari darinya (yang mereka takuti), atau bahkan lebih parah.
Seperti halnya ketika memahami Istiwa', yang bagi mereka tidak masuk akal, kata mereka :
"Masa sih Allah ada dilangit ?? Kan sama dengan makhluk dong ?? Makhluk juga ada tuh yang kelangit !!"
Maka dita'wil lah Istiwa' oleh sebagian mereka dengan Istawla (menguasai).
Sebenarnya, yang mereka inginkan hanyalah menghindar dari menetapkan Istiwa' dilangit bagi Sang Pencipta, karena makhluk pun bisa ber-istiwa', karena dianggapnya berarti Allah butuh akan langit, dlsb. Maka lafazh “Istiwa'” tersebut samar bagi mereka, sehingga mereka merasa perlu bahkan harus mena’wilkannya (memalingkanya) dengan makna “kekuasaan.”
Karena hal itu, maka mengharuskan mereka di dalam makna yang mereka tetapkan, sesuatu yang sama dengan apa mereka sangka harus terjadi di dalam makna yang mereka nafikan (tolak), karena para hamba juga memiliki kekuasaan..
Artinya : Mena'wilkan "Istiwa'"Allah dengan makna "kekuasaan" dengan tujuan agar tidak menyamakan Allah dengan makhluk, maka sebenernya ini sama saja, yakni sama2 menyamakan Allah dengan makhluk, karena makhluk pun juga ada yang mempunyai kekuasaan.
Maka jika apa yang mereka tetapkan berupa kekuasaan adalah sesuatu yang benar dan mungkin terjadi, maka menetapkan istiwa' bagi Allah, yakni Allah menetap tinggi diatas Arsy, hal ini juga adalah sesuatu yang benar dan mungkin. Dan jika menetapkan istiwa' dilangit (bagi Allah) adalah bathil, dan tidak mungkin, dikarenakan hal itu mengharuskan adanya tasybih (penyamaan Allah dengan makhluk-Nya) menurut persangkaan mereka, maka menetapkan kekuasaan (bagi Allah) juga sesuatu yang bathil dan tidak mungkin.
Maka jelas, dengan ta'wil seperti ini, mereka telah memalingkan dari makna yang rajah ke makna yang marjuh !!
Dan apa-apa yang datang para imam Salafush Shalih dan selain mereka berupa celaan kepada ahli ta’wil, maka yang dimaksudkan adalah mereka-mereka yang mena’wilkan lafazh yang maknanya samar menurut mereka, kepada ta’wil yang tidak semestinya, padahal lafazh tersebut tidak samar menurut pandangan selain mereka.
(Sumber bacaaan : مباحث في علوم القرآن,Syaikh Manna’ al-Qaththan Maktbah Wahbah, hal. 211).
Komentar
Posting Komentar