Sandal pak Haji

Syahdan, setelah sholat di Musholah sebelah rumah, Pak Haji kebingunan mencari sandalnya. Lalu datanglah Udin anak muda yang sering ikut acara di Mushollah..

"Ada apa Pak Haji ??"

" Sandal ane hilang Din !!"

"Oh, tadi diambil Lela anak Pak Haji, biar saya ambilin ya Pak Haji."

"Oh ya, tolong. Makasih ya, Din"

Segeralah Udin ke rumah pak haji di sebelah dan menemui Lela yang sejak tadi ada di teras.

"Asalamu alaikum, Lela"

"Wa alaikum salam. Ada apa, Din ??"

"Lela, mungkin kamu gak percaya, tapi tadi pak haji bilang, saya disuruh cium pipi kamu !!"

"Mana mungkin babe bilang begitu, enak aja !!"

"Ya udah kalau gak percaya"

Lalu Udin berteriak ke arah musholah..

" Pak Haji , gak dikasih sama Lela,,,"

"Lela...ayo kasih, jangan gak dikasih,,,"teriak Pak Haji dengan nada agak marah.

Mendengar ayahnya kelihatan serius, Lela percaya saja, pasti ada alasannya.

Setelah mencium pipi kanan, Udin bilang lagi :

"Lela, kata Pak Haji harus pipi kanan dan kiri, jadi pipi kiri juga harus dicium"

"Kok aneh si babe ??!" pikir Lela.

"Ya udah kalo gak percaya !!"

Lalu Udin berteriak lagi ke arah musholah :

" Pak Haji , cuma dikasih sebelah sama Lela,,,"

"Lela... buruan kasih, jangan cuma sebelah, kasih dua-duanya,,,,"teriak Pak Haji dengan nada lebih tinggi.

Mendengar ayahnya semakin marah, Lela jadi percaya saja. Udin berhasil mencium pipi kiri dan kanan Lela. Rencana yang dipikirkan berbulan-bulan ternyataberjalan lancar. Udin segera kembali ke musholah dan memberikan sandal yang sejak tadi disembunyikannya....

 [^_^]
__________

Cerita humor ini mungkin sudah pernah kita dengar sejak SD, tapi baru sadar ternyata hikmahnya dalam. Kisah ini terlihat konyol tapi itu sebenarnya mewakili kehidupan kita saat ini, dunia saat ini penuh dengan manipulasi !!

Udin berhasil memanipul kepercayaan, ia memanipulasi kepercayaan Pak haji kepadanya, ia memanipulasi kepercayaan Lela pada ayahnya, dan ia mendapatkan keuntungan dari manipulasi yang ia lakukan.

Kenapa tokohnya Udin ??

Udin sebenarnya nama baik berasal dari kata Addin (Agama), tapi justru di situ masalahnya. Orang yang memanipulasi kita di dunia nyata justru tidak tampil  bertato, gondrong, berotot atau membawa senjata, atau orang berpenampilan kurang baik lainnya. Orang yang akan memanipulasi kita mungkin ada yang berpeci, bersorban, dan terlihat alim. Ada juga yang berdasi, bermobil dan bertutur kata baik. Ada juga yang  berwujud caleg atau politisi. Ada yang menipu dengan pendekatan investasi, kerja sama bisnis atau pendekatan lain yang terlihat hebat. Mereka datang seolah datang sebagai dewa penolong yang ingin menolong kita yang sedang dalam keadaan lemah. Karena itu jangan mudah percaya, jangan mudah terpedaya.

Apa yang membuat Lela terpedaya ???

Lela sebenarnya adalah korban salah parenting. Dengan kata lain : ia telah salah pendidikan.

Hal ini tak jauh beda dg apa yang terjadi pada kebanyakan umat muslim, khususnya dalam kehidupan beragama. Mereka, kebanyakan umat Muslim, sejak diniu, bahkan sejak dulu, telah dibiasakan dididikharus tunduk dan patuh pada gurunya, kyainya, ustadznya, sesepuhnya, nenek moyangnya, dst.

Padahal, inti dari pendidikan bukanlah itu. Patuh pada guru itu bagus, tapi patuh yang bagaimana (????)

Seharusnya, kita patuh pada pendidik kita karena pendidik tsb mengajak pada kebaikan dan kebenaran, yakni kareena pendidik kita tsb benar maka kita patuhi dan ikuti.

Jadi, sebenarnya yang harus dipatuhi adalah : Kebaikannya dan kebenarannya.

Jika umat dilatih patuh pada kebenaran, maka ia diberi kebebasan untuk mengkritik, paling tidak mempertanyakan akan hal2 yang tidak dipahami.

Misalnya : Ketika kita sedang diajarkan ttg agama atau ibadah,  maka hendaknya klita tanyakan ttg dasar hukum dan dalilnya. Jangan cuma langsung ditelan mentah-mentah dan langsung dianggap sbg kebenaran apapun yang dikatakan sang kyai. Hingga ahirnya kita meyakini dan atau mengamalkan hal2 yang kitatidak tahu dasar hukumnya, poko'e opo jare kyai manut aja.

Padahal jelas2 kita dilarang mengikuti perkara2 yang kita tidak tahu ilmunya, lagipula, bagaimana kelak kita bisa mempertanggung jawabkan yang kita lakukan tsb jika tak yahu ilmunya ???

Walaa taqfu maa laysa laka bihi 'ilmun inna ssam'a walbashara walfu-aada kullu ulaa-ika kaana 'anhu mas-uulaa

"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan Tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya" [al Isra 36]

Kita ambil contoh ya..

- Ketika kyai kita mengajarkan agar ber-istighotsah atau minta tolong pada kuburan, maka seharusnya kita tanya dalilnya dong. Pernahkah Nabi dan para shahabat mencontohkannya ??

Ini hanya comtoh lho..

Harus diingat : Bahwa tidak ada manusia yang maksum kecuali Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Jadi, sehebat apapun seorang pendidik, ustadz, kyai, dll tsb, masih sangat mungkin ia bisa tergelincir dalam kesalahan.

Demikianlah idealnya, tapi sayang, banyak para pendidik atau pemuka agama yang tidak mau sepenuhnya terbuka menerima kritik. Dan ironisnya, hal ini bagaikan gayung bersambut, dimana umat pun enggan berfikir kritis. Mereka langsung saja menelan bulat2 apapun yang diakatakan ulama'nya sbg sebuah kebenaran. Padahal dalam agama, benar dan salah haruslah ditopang dengan dalil. Sebab perkataan manusia bukanlah dalil. Bahkan ia butuh dalil..

Hasilnya seperti Lela, sebenarnya ia tahu itu salah, ia sadar ada yang aneh, tapi karena takut atau percaya buta (kalo dalam perkara agama disebut taqlid) pada orang tua, ia pun menjadi korban manipulasi.

Nah !! kini saatnya kita menyiapkan diri kita, keluarga kita, dan seluruh umat, agar menjauhi taqlid, minimal mulai berusaha menuntut ilmu agar tidak terus2an bertaqli. Dan juga, sebagai muslim yang cerdas, kita harus mulai berfikir kritis, agar tidak jadi korban orang lain atau pihak tertentu.

Dan kita juga harus menyiapkan anak-anak kita agar tidak menjadi korban selanjutnya.

Dunia ini tidak sempurna, itu kenyataaannya.

  Tak ada pilihan selain mengambil segala kebaikan dan menghindari segala kebathilan.

Dalam beragama : Maka ikutilah semua amalan yang ada tuntunannya,dan jauhilah semua yang mengada-ada. Dan semua sudah dijelaskan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam bagaimana membedakan keduanya, atau kita akan terbawa arus menjadi korbannya.

_____________

Warning : Dilarang keras mempraktekkan akal bulus tokoh si tokoh Udin dalam cerita diatas.

Don't try this at mushalla.

➖Membedah Bid'ah➖

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hukum Tahlilan

Sejarah Tahlilan di Nusantara