Hidup Ruwet ala Bid'ah
Sebagai 'wong jowo', saya merasakan betul betapa yang namanya adat terkadang mbikin hidup tambah ruwet. Mungkin tadinya bermaksud baik, namun seiring bergesernya waktu, adat yang tadinya terlihat adiluhung, malah terasa menyesakkan hidup. Apalagi kalo diembel-embeli "keyakinan"
Saya gak begitu tahu banyak adat-adat apa yang harus dilalui seumur hidup manusia. Namun yang sedikit saya ketahui saja sudah cukup merepotkan manusia.
Di sini kita kutipkan bbrp diantaranya :
◾FASE KEHAMILAN
Fase ini harus dilalui dengan banyak berpantang. Wong jowo nyebut "ra ilok", wong sunda bilang "pamali" atau pantangan yang gak pantes dilakukan
Contohnya :
🔹Pas hamil kalo ngidam harus dituruti, biar anaknya gak ngileran atau ngecesan
Wes ra usah nanyak dalilnya, ra bakal nemu
🔹Kenthut jangan kenceng2, biar anaknya gak dobolen
🔹Makan jangan glegeken (sendawa), biar anaknya gak buncit perutnya
🔹Kalo lihat orang cacat harus bilang "amit-amit jabang bayi", biar anaknya tidak lahir cacat
Ada yang tau semua ajaran dari agama mana ❓❓yang jelas bukan dari Islam
🔹Gak boleh makan ikan mujahir, biar anaknya nggak ndoweh wal ndawir ataupun mencos
🔹Gak boleh nyembelih binatang, takut anaknya lahir cacat kehilangan organ tubuh
dlsb..
Kalo pengen tau dalil "adat2" diatas jangan buka kitab hadits, ra bakal ketemu, tapi coba buka primbon atau nanya mbah dukun saja.
_
Ada juga upacara mitoni. Jangan sangka ini upacara nyembelih ular piton, bukan. Ini ritual upacara [slametan] menyambut usia kehamilan bulan ke tujuh.
Semua itu ntah mau disebut apa kalo bukan bid'ah dan kurafat, bahkan bisa2 terjatuh dalam perkara syirik. Naudzubillah.
◾FASE KELAHIRAN SAMPAI PERNIKAHAN
🔹Begitu lahir ceprot, ada upacara nanam ari-ari. Bayi laki ari2nya ditanam di samping kanan rumah, bayi perempuan di samping kiri rumah. Sambil dipasangi lampu teplok.
🔹Lima hari kemudian "sepasaran bayi". Lalu tiap selapan (35 hari) dibancaki. Bancakan weton namanya. Dulu menunya nasi urap
(gudhangan) plus telor dibagi enambelas. Jian nyamleng tenan. Ini masih ditambahi tiap tahun diulang-tahuni.
Hhmmm.. Ritual yang melelahkan. Kadang yang gak punya duit direwangi ngutang ngalor ngidul, mbayarnya ngetan ngulon.
🔹Saat bisa jalan pun ada upacara "Tedhak
Sinten", yakni syukuran si anak bisa napak jalan. Mungkin orangtuanya khawatir, anaknya jalan gak ngambah lemah ya 😁 Kayak hantu saja 😄
Begitu puber, mulailah ritual dewasa :
🔹Yang pertama latihan bermuka dua dengan pacaran.
Muka dua⁉️Lha iya, jika didepan pacar, semua diperlihatkan yang manis-manis dan bagus-bagus
Misal : Meludah yang sopan, wahing diempet, angop ditutupi, kenthut dikempit, dst.. Wes poko'e teori John Robert Power dijalani semuah.
Tapiiiii, begitu di rumah ida-idu hoak-hoek, wahing gebras-gebres, angop ngowoh, ngenthut dhat-dhut, dst.. Konangan setelah jadi suami isteri😆
🔹Trus mulailah ritual lamaran, tukar cincin dengan sederet ritual-ritual nya..
🔹Memasuki pernikahan, adat yang harus dilaksanakan juga sak tumpuk. Apalagi orang jawa paling seneng dengan yang namanya "pepindhan' alias perlambang.
Contoh :
🔹Dipasangilah saat upacara pernikahan pohon tebu. Maksudnya biar manteb di kalbu, katanya.
Inilah ilmu gathuk😜
🔹Ada juga Cengkir. Agar kenceng anggone mikir.
🔹Kemudian ada upacara sawat-sawatan (saling melempar) daun sirih sambil ketawa-ketawi. Padahal boleh jadi setahun kemudian itu daun sirih diganti piring, sambil saling pisuh-pisuhan suami isteri😄
🔹Lalu tidak lupa ritual nginjek telur
Telur kok diinjek, mbok ya digoreng saja.
🔹Di belakang upacara itu, sang pawang hujan sibuk komat-kamit nolak hujan biar tamunya banyak yang datang. Salah satu cara nolak hujan yang konon katanya manjur adalah dengan melempar celana dalam sang penganten perempuan ke atas
genting rumah.
🤣😅😂Melempar celana dalam ❓❓
Selain bertentangan dg syari'at, juga bertentangan dg akal sehat❗
🔹Belum lagi di dapur, si mbah dukun sibuk nyajeni pawon (tungku api), kalo sekarang kompor. Katanya biar panas apinya. Kalo kurang sajen maka apinya gak panas, masakannya lama matengnya. Keburu tamunya gumruduk pada ngumpul kleleran belum disuguh.
Hayyaaaah, api kok kurangpanas, mbok dinyunyukne bathuke mbah dukune ben kroso‼️
Dan masih buuaaaanyak ritual-ritual lainnya..
Semua itu dijalani dengan penuh keruwetan. Lebih terasa ruwet saat dijalani oleh orang dengan aktifitas penuh kesibukan seperti sekarang.
Saya bukan orang yang anti dengan adat istiadat. Namun adat yang berbau syirik, bid'ah, kurafat, dan tidak mendidik hendaknya dieliminir saja.
Ingat, Islam datang untuk membuat hidup kita lebih mudah. "yuriidullohu bikumul yusro, walaa yuriidu bikumul 'usro.." (Allah menghendaki kemudahan buat kalian, dan tidak menghendaki kesukaran atas kalian)
Wallahu A'lam.
Semoga bisa diambil manfaatnya.
Komentar
Posting Komentar