Saling Mengingatkan atau Saling Membiarkan ❓
Saling Mengingatkan atau Saling Membiarkan ❓❓
Mana yang lebih baik ❓
Salah satu syubhat yang sering mereka katakan,
"ngapain sibuk ngurusin amalan orang lain ⁉️ kalian sesama salafi saja sering adu argumen dan bahkan saling tahdzir satu sama lain ‼️"
Maka kita katakan pada mereka,
"welcome to Manhaj Salaf"
➡️Inilah manhaj salaf, kita tidak pilih2 orang, siapa saja yang melakukan kekeliruan, siapapun dia, apapun levelnya, maka kita akan tetap saling meluruskan, mengingatkan bahkan menegur (dengan keras) bila diperlukan.
Untuk apa❓❓
▪️Semata-mata agar kebenaran ditegakkan, walaupun dia saudara sendiri. Bahkan justru karena dia adalah saudara, maka harus diingatkan dan diluruskan jika melakukan kesalahan.
▪️Ini bukan karena benci atau ingin saling menjatuhkan, tapi justru karena rasa sayang dan peduli, kita tidak ingin sesama saudara ada terus tenggelam dalam kesalahan.
Dan terkadang, kita memang besikap keras (baca : tegas) terhadap sesama saudara Muslim, terutama ketika kita mengingatkan akan bahaya2 penyimpangan dalam perkara2 agama (ibadah).
Kenapa sih sampai harus begitu ❓Tak bisakah kita saling menghargai dan saling membiarkan saja ⁉️
Ini bukanlah tentang perkara saling menghargai, tentu kita semua tetap saling menghargai dan menghormati sebagai sesama manusia.
Namun, Prinsip2 dalam beragama harus tetap ditegakkan, dan mengajak dan mengingatkan umat kepada al Haq, dan membantah (baca : meluruskan) kebatilan dan para pembawanya, adalah termasuk prinsip terpenting Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Prinsip ini termasuk bagian dari amar ma’ruf nahi munkar yang telah diperintahkan oleh Allaah dan Rasul-Nya.
Allah berfirman tentang Nabi-Nya :
“(Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka. Yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang dari munkar, dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk.” [Al A’raf : 157]
Juga firmanNya :
“Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, mencegah dari munkar dan beriman kepada Allaah.” [Ali ‘Imran : 110]
Dan masih banyak ayat-ayat yang senada.
Dan juga harus diingatkan, jika prinsip amar ma’ruf nahi munkar ini sampai ditinggal, maka itu merupakan salah satu sebab kebinasaan suatu kaum.
Sebagaimana Allah subhanahu wa ta'ala telah menceritakan tentang sebab kebinasaan Bani Israil :
"Mereka itu satu sama lain tidak mencegah dari kemungkaran yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu" [Al Ma-idah : 79]
Jelas dan gamblang ayat tsb, yakni bahwa jika saling bernasehat dan mengingatkan telah ditinggalkan, maka hanya keburukan yang akan terjadi.
Imam Ahmad bin Hambal rahimahullaahu ta'ala pernah ditanya :
"Manakah yang lebih engkau sukai, antara seorang yang berpuasa (sunnah), shalat (sunnah), dan i'tikaf, dengan seorang yang membantah ahli bid'ah ?" Beliau rahimahullaahu ta'ala menjawab : "Kalau dia shalat dan i'tikaf maka kebaikannya untuk dirinya pribadi, tetapi kalau dia membantah ahli bid'ah maka kebaikannya untuk kaum muslimin, dan ini lebih utama." (Majmu Fatawa Ibnu Taimiyah, XVIII/131)
▪️Maka dari itu, mencegah saudara sesama muslim dari perbuatan salah merupakan bukti kasih sayang seorang muslim terhadap saudaranya. Sebagaimana yang disabdakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam :
"Tolonglah saudaramu yang zhalim maupun yang terzhalimi" Para shahabat bertanya : "Wahai Rasulullah, jelas kami akan menolong yang terzhalimi, tapi bagaimana kami akan menolong orang yang zhalim ?" Rasulullah menjawab : "Yaitu (dengan cara) kamu tahan tangannya (agar tidak berbuat zhalim)" [HR. Al Bukhari]
Syaikhul Islam rahimahullah menjelaskan :
“Menganjurkan manusia agar berpegang dan mengikuti As Sunnah serta mencegah jangan sampai bid’ah muncul dan tersebar, termasuk amar ma’ruf nahi munkar. Bahkan ini merupakan amal shalih yang paling mulia, sehingga seharusnya betul-betul dijalankan dengan penuh keikhlashan mengharapkan wajah Allaah ” [Minhajus Sunnah V/253].
Demikianlah, terkadang seorang muslim itu (terkesan) lebih keras pengingkarannya terhadap kebatilan yang dilakukan oleh saudaranya sesama muslim. Itu justru sebagai bukti kecintaannya terhadap sesama muslim, karena dia ingin saudara terselamatkan dari adzab Allah sebagaimana dia pun ingin dirinya terselamatkan dari adzab Allah.
Sikap yang demikian, bukan muncul dari pendapat, analisa, maupun perasaan, namun ditegakkan diatas hujjah, ditegakkan di atas bimbingan Al Qur’an dan As Sunnah sesuai dengan pemahaman dan pengamalan salaful ummah.
Bahkan jika ada seorang muslim kok hanya diam saja melihat saudaranya yang lain sedang terjerumus dalam larangan2 Allah Ta'ala, maka rasa sayang dan persaudarannya thd sesama muslim justru perlu dipertanyakan.
➡️Sekarang, bagaimana dengan saudara2 kita yang justru lebih suka saling membiarkan antara sesama Muslim❓ Bahkan pada level lebih parah justru begitu anti thd sikap saling bernasehat dan mengingatkan dalam kebaikan.
Kita ambil beberapa contoh nyata :
▪️Banyak umat muslim yang mengadakan ritual larung sesaji, memberikan sesajen untuk dewi sri, dst.. Ada yang ngalap berkah, istighotsah, dan minta hajat di kuburan yang dianggap wali, dst.. Jangankan ada usaha saling mengingatkan, bahkan yang ada mereka ngikut aja.
▪️Tetangga kanan kiri rame2 melakukan ritual bid'ah. Adakah yang mencoba saling mengingatkan❓ Yang ada malah kena tuduh sebagai wahabi kalo coba mengingatkan.
▪️Guru/kyai nya mengajarkan ilmu kebal, bagi2 jimat, kalo pas sholat jum'at katanya bisa sholat di Mekah, dan ajaran nyleneh lainnya. Jangankan ada yang berani koreksi, yang ada dia malah berkata, well done master, very good.
Lantas, dikemanakan perintah agama untuk saling menegur dan menasihati satu sama lain kalau semua dianggap baik dan boleh2 saja❓❓
Saudaraku, jika pemahaman dan pemikiran saling membiarkan seperti ini terus biarkan dan dilestarikan, maka yang ada bukan makin lurus tapi malah makin jauh dari prinsip ahlus sunnah.
Satu pertanyaan, dan kita ajak semuanya untuk merenunginya dengan fikir tenang dan hati lapang :
▪️Mana yang lebih baik❓
▪️Mana yang akan anda pilih untuk ada berada diantarannya dan di dalamnya❓
➡️Bersama orang2 yang saling nasihat menasihati, saling mnegingatkan, dan saling mengajak dalam kebenaran❓❓
Atau..
➡️Tetap saling bela sesama orang2 yang saling tutup mata dan saling membiarkan, tanpa ada usaha untuk saling bernasehat, saling mengingatkan, dan saling mengajak pada kebaikan❓❓
.......
Saudaraku, Hidup ini tidak hanya untuk di dunia fana ini, tapi juga untuk kehidupan abadi kelak diakherat nanti. Maka, marilah kita tidak hanya mengejar ridha manusia, tapi yang lebih penting dan utama adalah ridha Allah Azza wa Jalla.
Barakallaahu fiikum
[Abu Khansa]
Komentar
Posting Komentar