Jauhi Debat
Sebuah nasehat bijak dari seorang sahabat,
"Kalau antum urus atau ikutin perdebatan di Facebook, antum akan capek sendiri."
Sebagaimana saya dulu saya mmg pernah aktif dlm dunia perdebatan di pesbuk, tapi insyaallah skrg sudah "taubat" 😊😊
Dan sungguh benar, memang capek.. Tapi, update status atau berbagi pengetahuan di FB, instagram, WA, atau dimanapun, itu pun juga capek lho, belajar pun capek, apalagi yang jadi pengajar, weeeh tambah capek. Tapi sungguh teramat rasa capek untuk hal2 tsb endingnya adalah rasa nikmat di hati, minimal itulah yang terasakan, yakni nikmatnya berbagi ilmu n kebaikan.
Pernahah kita sekadar menonton perdebatan non-ilmiah atau yang kesannya ilmiah berbungkus 'diskusi' ??, padahal never-ending dan takkan membuat orang bodoh menjadi pintar, bahkan seringnya justru debat hanya akan menjadikan orang pintar terlihat dibodoh-bodohi, ya...itu baru sekadar menonton saja, tidak memerlukan kesungguhan dan tidak menghasilkan kecapekan, tapi yang terjadi adalah kekerasan hati. Itu baru menonton, apalagi sebagai pemain ?? 😁😁 bisa jadi tambah keras hatinya, wallaahu a'lam.
Saudaraku, waktu luang adalah kenikmatan, namun waktu sibuk dalam kebaikan adalah senikmat-nikmat kenikmatan.
Banyak kok sahabat2 kita yang sekadar copas satu hadits dalam Shahih al-Bukhary atau lainnya, ataupun sekedar menukil nasehat2 indah dari kalam para ulamaa, yang mana bagi saya, sekedar membacanya saja sudah terasa bahagia, bahagia karena ada yang berbagi kebaikan, selain tentunya mendapat ilmu dan pengetahuan. Inilah indahnya berbagi kebaikan.
Mungkin ada saja yang tidak suka, terlepas apapun alasannya, tapi insyaa Allaah akan slalu ada yang mengambil manfaatnya.
Sebagaimana saya teringat, bahwa dalam kebaikan akan ada saja tusukan2 kecil, namun sungguh dalam jika ada yang mencukupkan nasehat dengan "Ittaqillaah" (Takutlah kamu pada Allah) lalu ia terdiam dan saya terdiam. Diamnya dia seolah adalah muhasabah yang membisik, 'Pun nasehat itu untukku', dan diamnya saya adalah muhasabah yang bergejolak, 'Sungguh nasehat sesingkat inilah yang lama tak kudengar'.
Saudaraku, semua yang saya tuliskan disini, sejatinya adalah nasehat dan pengingat untuk diri saya pribadi baru kemudian untuk orang lain, yang tentunya keselamatan diri saya sendiri lebih saya dahulukan sebelum orang lain.
Baraakallaahu fiikum.
[Sahabatmu]
"Kalau antum urus atau ikutin perdebatan di Facebook, antum akan capek sendiri."
Sebagaimana saya dulu saya mmg pernah aktif dlm dunia perdebatan di pesbuk, tapi insyaallah skrg sudah "taubat" 😊😊
Dan sungguh benar, memang capek.. Tapi, update status atau berbagi pengetahuan di FB, instagram, WA, atau dimanapun, itu pun juga capek lho, belajar pun capek, apalagi yang jadi pengajar, weeeh tambah capek. Tapi sungguh teramat rasa capek untuk hal2 tsb endingnya adalah rasa nikmat di hati, minimal itulah yang terasakan, yakni nikmatnya berbagi ilmu n kebaikan.
Pernahah kita sekadar menonton perdebatan non-ilmiah atau yang kesannya ilmiah berbungkus 'diskusi' ??, padahal never-ending dan takkan membuat orang bodoh menjadi pintar, bahkan seringnya justru debat hanya akan menjadikan orang pintar terlihat dibodoh-bodohi, ya...itu baru sekadar menonton saja, tidak memerlukan kesungguhan dan tidak menghasilkan kecapekan, tapi yang terjadi adalah kekerasan hati. Itu baru menonton, apalagi sebagai pemain ?? 😁😁 bisa jadi tambah keras hatinya, wallaahu a'lam.
Saudaraku, waktu luang adalah kenikmatan, namun waktu sibuk dalam kebaikan adalah senikmat-nikmat kenikmatan.
Banyak kok sahabat2 kita yang sekadar copas satu hadits dalam Shahih al-Bukhary atau lainnya, ataupun sekedar menukil nasehat2 indah dari kalam para ulamaa, yang mana bagi saya, sekedar membacanya saja sudah terasa bahagia, bahagia karena ada yang berbagi kebaikan, selain tentunya mendapat ilmu dan pengetahuan. Inilah indahnya berbagi kebaikan.
Mungkin ada saja yang tidak suka, terlepas apapun alasannya, tapi insyaa Allaah akan slalu ada yang mengambil manfaatnya.
Sebagaimana saya teringat, bahwa dalam kebaikan akan ada saja tusukan2 kecil, namun sungguh dalam jika ada yang mencukupkan nasehat dengan "Ittaqillaah" (Takutlah kamu pada Allah) lalu ia terdiam dan saya terdiam. Diamnya dia seolah adalah muhasabah yang membisik, 'Pun nasehat itu untukku', dan diamnya saya adalah muhasabah yang bergejolak, 'Sungguh nasehat sesingkat inilah yang lama tak kudengar'.
Saudaraku, semua yang saya tuliskan disini, sejatinya adalah nasehat dan pengingat untuk diri saya pribadi baru kemudian untuk orang lain, yang tentunya keselamatan diri saya sendiri lebih saya dahulukan sebelum orang lain.
Baraakallaahu fiikum.
[Sahabatmu]
Komentar
Posting Komentar