Mati pun jadi Ruwet karena Bid'ah dan Khurafat
Belum cukup hidup dalam keruwetan, manusia pun lebih suka memilih mati dengan ruwet pula. Ini dilakukan oleh hampir semua suku dan adat, apalagi di nusantara.
Kematian yang selayaknya ringkes dan sederhana, menjadi ruwet dan penuh pernik-pernik ra penting.
Setelah mati sebenarnya jenazah tinggal dirawat untuk dikubur saja. Namun embel-embelnya buuuaaanyak kalo nuruti adat. Dari sabang (yang konon -katanya- tradisinya Islam) sampai merauke (dengan tradisi pedalamannya) semua tak luput dari hal-hal tersebut.
Di dalam tradisi yang berbau Islam pun masih banyak khurafat dan bid'ah yang merasuk di dalam upacara pemakaman. Padahal Islam adalah ajaran yang paling ringkes di dalam hal upacara penguburan
Sebagai contoh kita cantumkan bbrp diantaranya :
1. Jenazah tidak segera dikuburkan sebelum semua anggota keluarga melihat untuk terakhir kalinya.
Ini syarat yang ruwet. Kadang karena harus memenuhi syarat ini, jenazah harus nginep bermalam-malam untuk menunggu anaknya yang ragil yang masih diperjalanan menembus hutan di pedalaman Kaltim sana.
2. Sebelum jenazah dikuburkan, semua anggota keluarga njalani upacara "brobosan". Yakni mbrobos, merangkak di bawah peti atau keranda jenazah. Konon biar gak inget terus sama yang mati.
Ra usah nanyak dalilnya, ra bakal nemu.
3. Penggali kubur harus slametan dulu, biar galiannya lancar, tidak rembes air.
Lha ini ajaran dari mana ya❓❓
4. Sudah masuk kubur pun masih dikumandangkan adzan.
Ada-ada saja, adzan kok di kuburan
Itu kalo sampe sang jenazah bangun untuk memenuhi panggilan adzan, para pengantar jenazah beserta keluarga bisa bubar terbirit-birit semua 😂
5. Setelah selesai proses dikubur pun masih banyak ritual slametan yang harus dijalani. Macem 3 harian, 7 harian, 40 harian, 100, lalu mendhak sepisan, pindo , telu, dst...sampai nyewu [seribu] hari.
Hal-hal seperti ini terkait dengan satu agama, tapi banyak yang rancu. Sudah banyak unsur sinkretisnya. Campuran keyakinan Hindu, Budha, Islam, Kong Hu cu. Jadinya keyakinan gado-gado. Akhirnya dinamailah 'kebudayaan' atau 'tradisi'.
Ruwet tho ⁉️
Ini belum kalo pas musim mendekati bulan puasa maupun syawalan. Kuburan yang biasa sepi, jadi serasa pasar kaget, apalagi di kuburan2 keramat.
Ziarah kubur yang sebenarnya sunnah, disini sudah nggladrah, berubah jadi tawasul ke jenazah, ngalap berkah, sampe istighotsah.
Apalagi kalo pas jum'at legi, apalagi kalo pas siji suro, waaaah..tumpah ruwah.
Tukang doa pun panen. Mau doa yang makbul, ada taripnya. Mau doa yang sederhana, boleh juga. Murah, gak ditanggung makbul. Makin mahal, makin panjang doanya. Peziarah yang naik mobil mewah dijamin dapet doa yang panjang-panjang.
Yang ngalap berkah disini tidak hanya tukang doa. Penjual kembang atau bunga pun dapet rejeki kagetan ini. Kembang menjadi komoditi laris ritual ziarah dan ngalap berkah.
Nggak pernah jelas dari agama mana yang mengajarkan ini semua, yang jelas ini menambah ruwet prosesi kematian yang sebenarnya sederhana.
Kasian yang hidupnya miskin. Mungkin keluarganya gak layak masuk surga kalo patokannya adat sperti ini.
Lha gimana⁉️ Mbayar tukang doa gak mampu. Beli kembang ra gableg duit. Malah ada yang
keluarganya gak diacarakan 3 harian, 7 harian dst, diomongin sama tetangga kiri kanannya, "ngubur orang kayak nanem bangke kucing saja‼️" Maksudnya gak ada upacara apa-apa [semisal tahlilan, dll] setelah itu.
Laa hawla wa laa quwwata illa billah
Kalo dituruti tradisi2 ini, memang yang berhak masuk surga cuma orang-orang kaya saja. Lha dari sejak ngubur sampai "nyewu" itu kalo dikalkulasi biayanya bisa sampai jutaan, puluhan-ratusan juta bahkan milyaran. Ngundang ustadz2 dan kyiai2. Ngamplopi para tamu undangan. Sak amplop isinya pariatip. Kisaran sepuluh rebuwan sampe yang gambar Soekarno Hatta. Lha wong mlarat ngempet khan
gak mampu menggelar tuntutan tradisi semacam itu. Ya sudah, di 'bangkai-kucing' kan sama tetangga ya harus pasrah.
Belum lagi ini ditambah biaya penguburan yang mahal dan makin meroket. Belum lagi harus beli batu nisan, masih harus di semen. Belum lagi yang kuburannya dibangun megah kayak rumahnya orang gedongan, ada yang dikasih hiasan mirip kamar penganten. Hayaaah tambah nggladrah‼️Padahal yang sesuai syariat kuburan harus diratakan dengan tanah, sederhana ra perlu biaya.
_
Mumet dan ruwet memang urusan wong mati ini kalo nuruti bid'ah dan khurafat. Ruwet yang dibikin sendiri oleh pelakunya. Kasian.

Komentar
Posting Komentar